Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang
Sholat merupakan jalan untuk kita memohon pertolongan kepada Allah. Maka itu sangat penting untuk kita perhatikan segala sesuatunya dalam sholat, agar permohonan kita kepada Allah dapat dikabulkan oleh-Nya. Dan diantaranya ialah tentang kekhusyuan kita dalam melakukan sholat. Dikarenakan sholat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu, sebagaimana yang Allah firmankan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya :
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar, dan itu (ucapkanlah kepada Allah ketika) sholat, dan sesungguhnya (sholat mengingat Allah itu) sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusyu’.(Q.S. 2: 45) (Yaitu) orang-orang yang meyakini, sesungguhnya mereka (sholat) hendak menemui Tuhannya, dan sesungguhnya mereka (sholat) hendak kembali (menghadap) kepada-Nya. (Q.S. 2: 46) Itulah yang Allah terangkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, maka dengan itu kita mendapatkan penjelasan dari sisi Allah bahwa orang yang khusyu ialah orang yang meyakini, sesungguhnya mereka sholat hendak menemui Tuhannya, dan sesungguhnya mereka sholat hendak kembali menghadap kepada-Nya. Maka dalam kedudukan seperti itulah kita berada dalam pengecualian atas orang-orang yang merasa keberatan dalam melakukan sholat. Lalu bagaimana untuk mencapai kedudukan sholat kita yang seperti demikian itu ...? Diantara cara-cara dari sekian banyaknya pengetahuan untuk mencapai kekhusyuan sholat tersebut ialah : Mengerjakan Amal Sholeh Apa Yang Diperintahkan Allah Sebelum Melakukan Sholat
Katakanlah : “ Sesungguhnya aku seorang manusia seperti kamu, (sungguh) telah diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhanmu Tuhan yang Maha Esa.“ Maka barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal sholeh, dan janganlah ia mempersekutukan Tuhannya dengan seseorang dalam beribadat (kepada-Nya). (Q.S. 18 : 110) Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi dia datang kepada (Tuhan) Yang Maha Pemurah kecuali orang yang mengabdi.(Q.S. 19:93) Sebagai hamba Allah yang mengabdi kepadanya tentu saja ketika kita hendak menghadap kepada Allah membawa laporan dari pangabdian kita ketika kita menghadapnya. Maka itu kerjakanlah amal sholeh apa saja yang Allah perintahkan dengan melalui ayat-ayat-Nya itu, supaya pembicaraan kita kepada Allah dalam sholat tidak kosong atau menipu Allah dengan mengatakan kepada Allah didalam sholat kita bahwa “Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan,” sedangkan sebelum sholat kita tidak mengerjakan pengabdian apapun dari perintah-perintah Allah menafkahkan sebagian rizki misalnya, atau menyampaikan amanat Allah, dll. Lalu apa yang akan kita persembahkan kepada Allah jika kita orang yang menyembah Allah ? Bukankah sebatas ketaatan kita yang telah melaksanakan segala perintah-Nya itu ?. Karena Allah Yang Maha Gagah Perkasa tidak akan lemah sedikitpun dikarenakan kita tidak memberikan sesuatu kepada-Nya bahkan Allah tidak memerlukan dari kita sedikitpun akan tetapi kitalah yang memerlukan segala pemberian dari sisi Allah. Maka itu kerjakanlah amal sholeh sebelum kita menghadap kepada Allah dalam melakukan sholat, dan kerjakanlah amal sholeh kita itu dengan tidak mempersekutukan Allah dengan siapapun. Atau kita beramal sholeh dengan tujuan lain yang bukan untuk mempersiapkan ketika kita hendak kembali kepada Allah, melainkan sebatas ingin dilihat orang lain misalnya. Hal ini sangat menuntun kita untuk merasakan pertemuan dengan Tuhannya, sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari misalkan kita bekerja kepada seorang bos lalu kita telah mengerjakan apa yang diperintahkannya tentu kita sangat mengharapkan pertemuan dengan bos kita itu untuk melaporkan pekerjaan kita itu kepada si bos agar ia memberikan upah dari pekerjaan yang telah kita kerjakan atas perintahnya. Nah begitu pula jika kita merasa orang yang mengabdi kepada Allah. Jika kita telah selesai mengerjakan perintah Allah lalu kita bersegera menghadap kepada-Nya diwaktu sholat untuk melaporkan ketaatan kita itu kepada Allah dan memohon balasan dari sisi Allah. Adapun yang demikian itu karena tidak ada seorangpun di langit dan di bumi dia datang kepada Allah Tuhan Yang Maha Pemurah kecuali orang yang telah mengabdi mengerjakan segala perintah-perintah-Nya.
Bersuci Jasmani Dan Ruhani Sebelum kita melakukan sholat maka Allah memerintahkan kita untuk bersuci atau berwudhu terlebih dahulu untuk membersihkan hadats kecil dan mandi jika kita sedang dalam keadaan junub. Dikarenakan yang akan menemui Allah itu tidak sebatas jasad kita melainkan fikiran, rasa hati, dan ingatan, maka alangkah baiknya jika ketika kita bersuci kita membersihkan pula sampai kedalam ruhani dari tata cara bersuci kita. Misalnya ketika membasuh wajah kita maka kita bersihkan pula pandangan-pandangan kita untuk satu tujuan kembali kepada Allah, lalu seiring dengan membasuh rambut kita bersihkan pula fikiran dalam kepala kita untuk satu tujuan kembali kepada Allah, begitu seterusnya sampai selesai bersuci. Dan kita harus yakin bahwa ketika kita mulai menghadap kepada Allah tidak ada kekotoran-kekotoran terutama dalam jiwa kita ketika kita menghadap Allah Yang Maha Suci. Misalnya tadi kita habis marah dengan si A lalu kemarahan kita masih terbawa-bawa dalam melakukan sholat maka berarti kita belum bersuci dalam jiwa kita maka ini akan menghalangi kita dapat merasakan pertemuan dengan Allah. Adapun yang demikian itu dikarenakan disisi Allah kita akan mendapat perhitungan atas amal kita masing-masing bukan amal orang lain, maka tidak ada hubungannya sholat kita dengan amal perbuatan orang lain yang kita ingat-ingat itu dan pula kita tidak akan ditanyakan segala apa yang diperbuat orang lain itu berikut pertanggungjawabannya. I’tikaf Terlebih Dahulu Sejenak Sesudah bersuci kita lalu usahakan untuk meluangkan waktu sejenak sebelum kita berdiri sholat untuk beri’tikaf atau merenungkan dari setiap perkataan-pekataan kita yang akan kita ucapkan kepada Allah ketika menghadapnya. Dan pelajarilah sehingga kita mengerti benar makna dari apa yang akan kita ucapkan kepada Allah. Adapun yang demikian itu, supaya kita tidak mengikuti bisikan syaitan yang membisik ke dalam rongga dada kita yang menyuruh kita supaya melakukan kejahatan dan perbuatan keji dihadapan Allah ketika melakukan sholat, dan supaya kita mengatakan kepada Allah di dalam sholat kita itu apa yang kita tidak mengetahui, sebagaimana firman-Nya ; Sesungguhnya syaitan menyuruh kamu supaya melakukan kejahatan dan perbuatan keji, dan supaya kamu mengatakan kepada Allah apa yang kamu tidak mengetahui. (Q.S. 2:169) Dan agar pembicaraan kita kepada Allah didalam melakukan sholat tidak sebagaimana pembicaraannya orang yang sedang mabuk, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya : Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu dekati sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (ketika sholat) dan janganlah (kamu hampiri masjid sedang kamu) dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, sehingga kamu mandi (terlebih dahulu), dan jika kamu dalam keadaan sakit atau kamu sedang dalam perjalanan atau kamu datang dari tempat buang air atau kamu menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air (untuk bersuci), maka bertayamumlah kamu dengan debu tanah yang bersih (atau suci), maka sapukanlah (debu itu) kemukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun. (Q.S. 4 : 43) Maka itu marilah kita pelajari benar-benar setiap perkataan-perkataan yang kita hendak bicarakan kepada Allah didalam melakukan sholat, supaya sholat kita tidak sebagaimana orang yang mabuk yaitu berbicara semaunya sendiri tanpa memperdulikan salah atau benar serta maksud dan tujuan pembicaraannya kepada yang si pendengar. Kemudian didalam i’tikaf ini yang perlu kita lakukan juga ialah melatih rasa hati dan ingatan dan seluruh panca indra kita supaya tetap tertuju kepada Allah, karena sholat itu khusus mengingat Allah sebagaimana firman-Nya : Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku maka sembahlah Aku, dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku (dan menyembah-Ku).(Q.S. 20:14) Sesungguhnya hari Kiamat pasti datang, dan hampir Aku merahasiakan bahwa (pada hari itu) tiap-tiap diri akan dibalas dengan apa yang ia usahakan. (Q.S. 20:14) Maka (sekali-kali) janganlah (ingatan)mu dapat dipalingkan dari (mengingat-Ku dalam menyembah-Ku ketika sholat) oleh orang yang tidak beriman kepada (petunjuk-Ku), sedang ia orang yang mengikuti hawa nafsunya (dalam melakukan sholatnya itu), maka jika (ingatanmu dapat dipalingkan olehnya, niscaya) kamu (termasuk orang-orang yang akan) binasa (tertimpa azab). (Q.S. 20:15) Itulah yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang berhubungan dengan ingatan kita ketika kita melakukan sholat, maka sekali-kali janganlah ingatan kita dapat dipalingkan dari mengingat Allah dalam menyembah-Nya ketika sholat oleh orang yang tidak beriman kepada petunjuk Allah, atau kita yang mengikuti hawa nafsunya sendiri dalam melakukan sholatnya itu sehingga dalam sholat kita hanya keinginan hawa nafsu kita sendiri saja yang kita ingat-ingat, maka jika ingatan kita dapat dipalingkan oleh hawa nafsu tersebut, niscaya kita termasuk orang-orang yang akan binasa tertimpa azab. Kemudian kita juga i’tikafkan apakah kita hendak menghadap Allah dalam melakukan sholat membawa dosa-dosa yang kita kerjakan dari sebelum kita sholat atau membawa perintah-perintah Allah yang telah kita kerjakan sebelumnya. Jika kita merasa melakukan dosa sebelum kita menghadap Allah ketika melakukan sholat maka sebaiknya kita mohon ampun dahulu kepada Allah diampuni dosa-dosa kita sebelum menghadap Allah. Kemudian untuk perintah-perintah Allah yang kita kerjakan maka kita mohon ditetapkan balasannya disisi Allah. Jangan Tergesa-gesa Berbicara Sesudah kita siap untuk berdiri menghadap Allah dalam melakukan sholat, maka mulailah kita berbicara kepada Allah dan bacalah perkataan-perkataan kita itu dengan perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa ingin cepat-cepat selesai. Dan usahakanlah rasa hati dan ingatan kita tidak mendahului setiap bacaan sholat kita. Sehingga rasa hati dan ingatan kita akan selalu tertuntun oleh bacaan yang kita baca dalam melakukan sholat, sebagaimana firman Allah : Janganlah kamu gerakkan lidahmu dengan (membaca Al Qu’an), karena kamu hendak bersegera (menguasai) padanya. (Q.S. 75:16) Sesungguhnya atas Kami-lah mengumpulkannya dan membacakannya. (Q.S. 75:17) Maka apabila Kami telah membacakannya, maka ikutilah bacaannya. (Q.S. 75:18) Apabila Rasa Hati Dan Ingatan Berpaling Kemudian apabila rasa hati dan ingatan kita berpaling didalam sholat terutama apabila tidak disengaja atau kecelakaan, maka segeralah kita kembali kepada Allah dan berdoalah : Rabbana la tu-akhithna in nasiina aw akhta’na “ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami karena kami lupa atau kesalahan. “ (Q.S. 2:286) Lalu kita ulang kembali ditempat dimana ingatan kita berpaling dari bacaan sholat kita sendiri. Begitu kita ulang kembali setiap kita berpaling. Dengan terlatih demikian semakin jarang kita berpaling sampai benar-benar kita tidak pernah kles dari bacaan dengan rasa hati dan ingatan kita dalam melakukan sholat. Berdialog Dengan Allah Perlu diketahui bahwa ayat-ayat Allah yang kita baca dalam melakukan sholat ialah disaat itu Allah sedang berbicara kepada kita dengan melalui lisan kita. Maka itu kita sedang berdialog dengan Allah yang berbicara kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya. Maka setiap ayat-ayat yang kita baca dalam melakukan sholat kita harus memberikan jawaban dari setiap perkataan Allah dengan perkataan kita sebagai jawaban atas firman Allah itu dengan perkataan yang mengandung kebaikan. Sebagai contoh dialognya di surah Al Fatihah berikut ini: Suratul Al Fatihah(ti) ( Pembukaan ) Surah ke I diturunkan di Makkah sebanyak 7 ayat. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(Q.S. 1:1) Dialog : “ Ya Allah, sungguh Engkaulah Tuhanku yang telah memberikan kemurahan dan kasih sayang-Mu kepadaku” Segala Puji bagi Allah Tuhan Pemelihara semesta alam. (Q.S. 1:2) Dialog : “ Ya Allah, dengan seiring kemurahan dan kasih-sayang-Mu aku panjatkan segala puji bagi Engkau ya Allah Tuhan Pemelihara semesta alam” Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Q.S. 1:3) Dialog : “ Yang telah memelihara kami dengan kemurahan dan kasih sayang Engkau” Yang Menguasai hari pembalasan. (Q.S. 1:4) Dialog : “ Ya Allah, sungguh hanya Engkau-lah yang Menguasai hari pembalasan, maka berikankanlah balasan atas ketaatan kami dalam mengerjakan perintah-Mu dan ampunilah kesalahan kami kepada Engkau ya Allah” Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. 1:5) Dialog : “Ya Allah, sungguh hanya kepada Engkau-lah kami menyembah mempersembahkan ketaatan kami dalam mengerjakan perintah-Mu dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan dalam mengerjakan segala perintah-Mu” Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus. (Q.S. 1:6) Dialog : “ Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan penyembahan kami ini yang lurus” (Yaitu) ke jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan (ke jalan) orang-orang yang Engkau murkai atas mereka, dan bukan (pula ke jalan) orang-orang yang tersesat. (Q.S. 1:6) Dialog : “Yaitu ke jalan penyembahannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka atau para Nabi dan Rosul, bukan ke jalan penyembahannya orang-orang yang Engkau murkai atas mereka, dan bukan pula ke jalan penyembahannya orang-orang yang tersesat.” Contoh dialog diatas hanyalah sebagai perumpamaan saja, adapun pada prakteknya kita dapat menyesuaikan dengan keadaan kita masing-masing setiap kita melakukan sholat. Misalnya di rokaat pertama pada kalimat “ Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan penyembahan kami ini yang lurus”, maka pada rokaat terakhir kita bisa berbicara kepada Allah dengan kalimat “ Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan pengabdian kami ini yang lurus”. Adapun yang demikian itu dikarenakan kita sesudah melakukan sholat ini kita akan mengerjakan perintah-perintah Allah kembali sebagai wujud pengabdian kita kepada Allah yang akan kita bawa kembali ketika menghadap Allah pada waktu sholat selanjutnya. Dan begitu pula dengan ayat-ayat yang lainnya. Dengan demikian antara sholat dan pengabdian kita tidak terpisahkan setiap harinya, sehingga dalam pengabdian kita kita pun bisa selalu mengingat Allah yang pada akhirnya ketika kita mau menghadap Allah ketika sholat kita telah terbiasa mengingat-Nya dalam pengabdian sehingga kita terhindar dari perbuatan keji dan mungkar kepada Allah sebagaimana firman-Nya : Bacalah apa yang (Allah) wahyukan kepadamu dari Kitab (Al Qur’an), dan dirikanlah sholat, sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (dalam melakukan sholat) lebih besar (keutamaannya) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (dalam melakukan sholat).(Q.S. 29:45). Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Q.S. 3:190). (Yaitu bagi) orang-orang yang mengingat Allah, (sambil) berdiri, (sambil) duduk, (sambil) berbaring, dan (yang demikian itu) mereka sedang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (lalu mereka berkata): “ Yaa Tuhan kami, tidaklah sia-sia (semua) yang telah Engkau ciptakan ini, maka peliharalah kami dari (tersentuh) siksa neraka.” (Q.S. 3:191). |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar