Kamis, 06 Agustus 2009

Pengajaran Dari Nabi Nuh As

Pengajaran Dari Nabi Nuh As


Marilah kita perhatikan bagaimana Allah mengutus Rosul-Rosul-Nya, dan ingatlah akan kisah Nabi Nuh A.S yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata : " Hai kaumku, sembahlah Allah tidak ada Tuhan bagimu selain Dia, sesungguhnya aku khawatir atasmu (akan ditimpa) azab di hari besar." (Q.S 7 : 59).
Berkatalah pemuka-pemuka dari kaumnya : " (Hai Nuh), sesungguhnya kami memandang kamu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S 7 : 60).
Nuh berkata : " Hai kaumku, tidaklah aku dalam kesesatan, akan tetapi aku utusan Tuhan semesta alam." (Q.S 7 : 61).
(Maka) aku sampaikan risalah (kekuasaan) Tuhanku kepadamu, dan aku nasehatkan kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahui. (Q.S 7 : 62).
Apakah kamu heran bahwa kamu telah kedatangan peringatan dari Tuhanmu dengan (melalui) seorang laki-laki yang ada diantara kamu, agar dia memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa (kepada Allah) supaya kamu diberi rahmat (dari sisi-Nya) ? (Q.S 7 : 63).
Maka berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya :” Tidaklah lain dia kecuali seorang manusia seperti kamu, dia menghendaki lebih tinggi atas kamu, dan sekiranya Allah menghendaki (agar kami menyembah Allah), tentu Dia menurunkan Malaikat. (Dan) kami belum pernah mendengar (seruan orang yang menyeru kami agar menyembah Allah, dan demikian pula) bapak-bapak kami yang terdahulu (bahwa merekapun belum pernah mendengar seruan) ini.“ (Q.S. 23 : 24).
Tidaklah lain dia kecuali seorang laki-laki yang gila dengan (seruan)nya, maka tunggulah (kejadian)nya sampai suatu waktu. (Q.S. 23 : 25).
Nuh berdo’a :” Yaa Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.” (Q.S. 23 : 26).
Lalu Kami wahyukan kepada Nuh :” Buatlah perahu dengan pengawasan Kami dan petunjuk Kami, maka apabila datang perintah Kami dan Tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah kedalam perahu sepasang (binatang ternak) dari tiap-tiap (jenis), dan (demikian pula) keluargamu, kecuali orang diantara mereka yang telah terlebih dahulu ditetapkan (azab) atasnya. Dan janganlah kamu membicarakan tentang orang-orang dzalim kepada-Ku, karena sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan.” (Q.S. 23 : 27).
Maka apabila kamu dan orang yang bersamamu telah berada diatas perahu, maka ucapkanlah :” Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kaum yang dzalim. “(Q.S. 23 : 28).
Dan Nuh berdo’a :” Yaa Tuhanku, turunkanlah aku di tempat yang Engkau berkati, dan Engkau sebaik-baiknya pemberi tempat.” (Q.S. 23 : 29).
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar (terdapat) tanda-tanda (kekuasaan Kami) dan sesungguhnya azab itu akan Kami timpakan (atas orang-orang dzalim). (Q.S. 23 : 30).

Wahai hamba-hamba Allah yang dimuliakan,

Itulah kisah Nabi Nuh AS yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya. Yaitu sesungguhnya Allah telah mengutus Nabi Nuh A.S kepada kaumnya, lalu beliau berkata : " Hai kaumku, sembahlah Allah tidak ada Tuhan bagimu selain Dia, sesungguhnya aku khawatir atasmu akan ditimpa azab di hari besar." Berkatalah pemuka-pemuka dari kaumnya : " Hai Nuh, sesungguhnya kami memandang kamu dalam kesesatan yang nyata.”

Wahai saudaraku yang seagama, bagaimana seandainya kita diajak menyembah Allah dalam melakukan sholat, kemudian kita mengira bahwa ajakan itu tersesat, sehingga kita tidak mau menyembah Allah dalam melakukan sholat, maka apakah kita tidak akan ditimpa azab di hari besar ?

Beliau berkata : " Hai kaumku, tidaklah aku dalam kesesatan, akan tetapi aku utusan Allah yang diutus kepadamu supaya aku menyeru kamu agar kamu menyembah Allah." Dan aku sampaikan risalah kekuasaan Tuhanku kepadamu, agar kamu tidak mempersamakan Allah dengan sesuatu dalam penyembahanmu itu, dan aku nasehatkan itu kepadamu supaya kamu selamat, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahui. Apakah kamu heran bahwa kamu telah kedatangan peringatan dari Tuhanmu dengan melalui seorang laki-laki yang ada diantara kamu, agar dia memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa kepada Allah supaya kamu diberi rahmat dari sisi-Nya ?

Wahai saudaraku yang seagama, sungguh beliau itu tidak tersesat melainkan beliau utusan Allah yang disuruh menyeru kita agar kita menyembah Allah dalam melakukan sholat, dan supaya beliau menyampaikan risalah kekuasaan Allah kepada kita, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada beliau dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Hai Rosul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak mengerjakannya, maka (berarti) kamu tidak mau menyampaikan risalah (kekuasaan Tuhanmu). Dan (janganlah kamu takut kepada mereka, karena) Allah akan memelihara kamu dari (gangguan) manusia, dan sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (Q.S 5 : 67).

Wahai saudaraku yang seagama, itulah sebagai bukti dari perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepada Rosul-Nya, yaitu supaya beliau menyampaikan risalah kekuasaan Allah kepada kita, agar kita tidak mempersamakan Allah dengan kekuasan-Nya yang telah Allah ciptakan dilangit dan dibumi, apabila kita sujud menyembah Allah ketika sholat. Itulah yang Allah nasehatkan kepada kita supaya kita selamat dari azab-Nya. maka sembahlah Allah apabila kita sujud ketika sholat. Dan apakah kita heran bahwa kita telah kedatangan peringatan dari sisi Allah dengan melalui seorang laki-laki yang ada diantara kita, agar dia memberi peringatan kepada kita dan agar kita bertakwa kepada Allah dengan menyembah-Nya, supaya kita diberi rahmat dari sisi-Nya ?

Sungguh yang demikian itu Allah Maha Kuasa, dan sungguh jika Allah menghendaki untuk menjadikan seorang pemberi peringatan dari orang yang ada diantara kita, maka yang demikian itu Allah hanya mengatakan kepadanya : Jadilah, maka jadilah ia seorang pemberi peringatan yang mengingatkan kita.

Maka sesudah itu berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya :” Tidaklah lain dia kecuali seorang manusia seperti kamu, dia menghendaki lebih tinggi atas kamu, dan sekiranya Allah menghendaki agar kami menyembah Allah, tentu Dia menurunkan Malaikat. Dan kami belum pernah mendengar seruan orang yang menyeru kami agar menyembah Allah dalam melakukan sholat, dan demikian pula bapak-bapak kami yang terdahulu, bahwa merekapun belum pernah mendengar seruan ini.“ Tidaklah lain dia kecuali seorang laki-laki yang gila dengan seruannya, maka tunggulah kejadiannya sampai suatu waktu.

Wahai saudaraku yang seagama, sungguh orang yang mengajak kita agar kita menyembah Allah dalam melakukan sholat itu, benar-benar dia seorang manusia seperti kita, dan dia tidak menghendaki lebih tinggi atas kita, melainkan dia hanya sebatas menjalankan perintah Allah yang telah Allah perintahkan kepadanya. Dan janganlah kita mengira jika Allah menghendaki agar kita menyembah Allah dalam melakukan sholat, tentu Allah menurunkan Malaikat. Adapun yang demikian itu karena Allah Maha Kuasa untuk menjadikan seorang pemberi peringatan dari orang yang ada diantara kita, dan sungguh tidaklah Allah menurunkan Malaikat melainkan dia supaya mencabut nyawa kita, maka sesudah itu putuslah urusan kita dalam kehidupan dunia ini.

Dan jika kita benar-benar belum pernah mendengar seruan orang yang mengajak kita agar menyembah Allah dalam melakukan sholat, dan demikian pula bapak-bapak kita yang terdahulu, bahwa merekapun benar-benar belum pernah mendengar seruan orang yang mengajak mereka agar menyembah Allah dalam melakukan sholat, Maka janganlah kita menganggap orang yang menyeru kita itu bahwa dia orang gila, sehingga kita tidak mau memperdulikan seruannya karena yang menyerunya itu orang gila.

Beliau berdo’a :” Yaa Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.” Kemudian Allah wahyukan kepada Nabi Nuh A.S :” Buatlah perahu dengan pengawasan Kami dan petunjuk Kami, maka apabila datang perintah Kami dan Tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah kedalam perahu sepasang binatang ternak dari tiap-tiap jenis, dan demikian pula keluargamu, kecuali orang diantara mereka yang telah terlebih dahulu ditetapkan azab atasnya. Dan janganlah kamu membicarakan tentang orang-orang dzalim kepada-Ku, karena sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan.” Maka apabila kamu dan orang yang bersamamu telah berada diatas perahu, maka ucapkanlah :” Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kaum yang dzalim. “

Kemudian beliau berdo’a :” Yaa Tuhanku, turunkanlah aku di tempat yang Engkau berkati, dan Engkau sebaik-baiknya pemberi tempat.” Allah berfirman : Hai Nuh, sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Kami dan sesungguhnya azab itu akan Kami timpakan atas orang-orang dzalim.

Wahai saudaraku yang seagama, bagaimana seandainya kita berbuat dzalim terhadap orang yang menyeru kita dengan menganggap dia orang gila, sehingga kita tidak mau memperdulikan seruannya karena yang menyerunya itu orang gila. Maka apakah kita tidak termasuk orang-orang yang akan ditimpa azab ? Dan yang demikian itu karena Allah telah menentukan bahwa azab itu akan ditimpakan atas orang-orang dzalim, dan Allah Maha Kuasa untuk mengazabnya.

Dan apakah benar kita ini belum pernah mendengar seruan orang yang menyeru kita agar menyembah Allah dalam melakukan sholat ? Jika benar, sungguh yang demikian itu bahwa Allah telah menumbuhkan generasi penerus untuk meneruskan perjuangan Rosul-Rosul-Nya, supaya dia menyeru kita agar kita menyembah Allah dalam melakukan sholat, dan supaya dia menyampaikan risalah kekuasaan Allah kepada kita, agar kita tidak mempersamakan Allah dengan sesuatu dalam penyembahan kita kepada Allah. Yaitu sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang firman-Nya :

Kemudian sesudah itu Kami tumbuhkan generasi yang lain. (Q.S. 23 : 31).
Lalu Kami utus kepada mereka seorang Rosul dari (orang) yang ada diantara mereka (supaya dia berkata) :” Sembahlah Allah tidak ada Tuhan bagimu selain Dia, maka apakah kamu tidak akan bertaqwa (kepada Allah) ?.” (Q.S. 23 : 32).
Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya, dan mereka mendustakan pertemuan hari akhirat, dan Kami telah memberi (kedudukan) yang mewah kepada mereka dalam kehidupan dunia :” Tidaklah lain dia ini kecuali seorang manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan padanya, dia minum dari apa yang kamu minum.“ (Q.S. 23 : 33).
Dan jika kamu menta’ati manusia seperti kamu, sungguh jika demikian niscaya kamu (termasuk) orang-orang yang rugi. (Q.S. 23 : 34).
Apakah dia menjanjikan kepadamu, bahwasanya apabila kamu mati dan kamu telah menjadi tanah dan tulang, sesungguhnya kamu akan di keluarkan (dari kubur menjadi makhluk yang baru)?.” (Q.S. 23 : 35).
Jauh, jauh sekali (dari kenyataan) yang dia janjikan kepadamu. (Q.S. 23 : 36).
Tidaklah lain kehidupan kita ini kecuali didunia kita mati dan (didunia) kita hidup, dan kita tidak akan dibangkitkan. (Q.S. 23 : 37).
Tidaklah lain dia kecuali seorang laki-laki yang mengadakan kedustaan kepada Allah, dan kami tidak percaya kepadanya. (Q.S. 23 : 38).
Rosul berdo’a:” Yaa Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.” (Q.S. 23 : 39).
Allah berfirman :” Dalam waktu sedikit, sungguh mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.“ (Q.S. 23 : 40).
Lalu mereka ditimpa suara yang mengguntur dengan sebenarnya, lalu Kami jadikan mereka (seperti) sampah daun kering (yang berserakan), maka jauhilah kaum yang dzalim itu. (Q.S
. 23 : 41).


Gimana Supaya Sholat Khusyu?

Sholat Khusyu

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang

Sholat merupakan jalan untuk kita memohon pertolongan kepada Allah. Maka itu sangat penting untuk kita perhatikan segala sesuatunya dalam sholat, agar permohonan kita kepada Allah dapat dikabulkan oleh-Nya. Dan diantaranya ialah tentang kekhusyuan kita dalam melakukan sholat. Dikarenakan sholat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu, sebagaimana yang Allah firmankan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya :

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar, dan itu (ucapkanlah kepada Allah ketika) sholat, dan sesungguhnya (sholat mengingat Allah itu) sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusyu’.(Q.S. 2: 45)

(Yaitu) orang-orang yang meyakini, sesungguhnya mereka (sholat) hendak menemui Tuhannya, dan sesungguhnya mereka (sholat) hendak kembali (menghadap) kepada-Nya. (Q.S. 2: 46)

Itulah yang Allah terangkan kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya, maka dengan itu kita mendapatkan penjelasan dari sisi Allah bahwa orang yang khusyu ialah orang yang meyakini, sesungguhnya mereka sholat hendak menemui Tuhannya, dan sesungguhnya mereka sholat hendak kembali menghadap kepada-Nya. Maka dalam kedudukan seperti itulah kita berada dalam pengecualian atas orang-orang yang merasa keberatan dalam melakukan sholat.

Lalu bagaimana untuk mencapai kedudukan sholat kita yang seperti demikian itu ...?

Diantara cara-cara dari sekian banyaknya pengetahuan untuk mencapai kekhusyuan sholat tersebut ialah :

Mengerjakan Amal Sholeh Apa Yang Diperintahkan Allah Sebelum Melakukan Sholat

Katakanlah : “ Sesungguhnya aku seorang manusia seperti kamu, (sungguh) telah diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhanmu Tuhan yang Maha Esa.“ Maka barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal sholeh, dan janganlah ia mempersekutukan Tuhannya dengan seseorang dalam beribadat (kepada-Nya). (Q.S. 18 : 110)

Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi dia datang kepada (Tuhan) Yang Maha Pemurah kecuali orang yang mengabdi.(Q.S. 19:93)

Sebagai hamba Allah yang mengabdi kepadanya tentu saja ketika kita hendak menghadap kepada Allah membawa laporan dari pangabdian kita ketika kita menghadapnya. Maka itu kerjakanlah amal sholeh apa saja yang Allah perintahkan dengan melalui ayat-ayat-Nya itu, supaya pembicaraan kita kepada Allah dalam sholat tidak kosong atau menipu Allah dengan mengatakan kepada Allah didalam sholat kita bahwa “Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan,” sedangkan sebelum sholat kita tidak mengerjakan pengabdian apapun dari perintah-perintah Allah menafkahkan sebagian rizki misalnya, atau menyampaikan amanat Allah, dll. Lalu apa yang akan kita persembahkan kepada Allah jika kita orang yang menyembah Allah ? Bukankah sebatas ketaatan kita yang telah melaksanakan segala perintah-Nya itu ?. Karena Allah Yang Maha Gagah Perkasa tidak akan lemah sedikitpun dikarenakan kita tidak memberikan sesuatu kepada-Nya bahkan Allah tidak memerlukan dari kita sedikitpun akan tetapi kitalah yang memerlukan segala pemberian dari sisi Allah.

Maka itu kerjakanlah amal sholeh sebelum kita menghadap kepada Allah dalam melakukan sholat, dan kerjakanlah amal sholeh kita itu dengan tidak mempersekutukan Allah dengan siapapun. Atau kita beramal sholeh dengan tujuan lain yang bukan untuk mempersiapkan ketika kita hendak kembali kepada Allah, melainkan sebatas ingin dilihat orang lain misalnya.

Hal ini sangat menuntun kita untuk merasakan pertemuan dengan Tuhannya, sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari misalkan kita bekerja kepada seorang bos lalu kita telah mengerjakan apa yang diperintahkannya tentu kita sangat mengharapkan pertemuan dengan bos kita itu untuk melaporkan pekerjaan kita itu kepada si bos agar ia memberikan upah dari pekerjaan yang telah kita kerjakan atas perintahnya. Nah begitu pula jika kita merasa orang yang mengabdi kepada Allah. Jika kita telah selesai mengerjakan perintah Allah lalu kita bersegera menghadap kepada-Nya diwaktu sholat untuk melaporkan ketaatan kita itu kepada Allah dan memohon balasan dari sisi Allah.

Adapun yang demikian itu karena tidak ada seorangpun di langit dan di bumi dia datang kepada Allah Tuhan Yang Maha Pemurah kecuali orang yang telah mengabdi mengerjakan segala perintah-perintah-Nya.

Bersuci Jasmani Dan Ruhani

Sebelum kita melakukan sholat maka Allah memerintahkan kita untuk bersuci atau berwudhu terlebih dahulu untuk membersihkan hadats kecil dan mandi jika kita sedang dalam keadaan junub. Dikarenakan yang akan menemui Allah itu tidak sebatas jasad kita melainkan fikiran, rasa hati, dan ingatan, maka alangkah baiknya jika ketika kita bersuci kita membersihkan pula sampai kedalam ruhani dari tata cara bersuci kita. Misalnya ketika membasuh wajah kita maka kita bersihkan pula pandangan-pandangan kita untuk satu tujuan kembali kepada Allah, lalu seiring dengan membasuh rambut kita bersihkan pula fikiran dalam kepala kita untuk satu tujuan kembali kepada Allah, begitu seterusnya sampai selesai bersuci.

Dan kita harus yakin bahwa ketika kita mulai menghadap kepada Allah tidak ada kekotoran-kekotoran terutama dalam jiwa kita ketika kita menghadap Allah Yang Maha Suci. Misalnya tadi kita habis marah dengan si A lalu kemarahan kita masih terbawa-bawa dalam melakukan sholat maka berarti kita belum bersuci dalam jiwa kita maka ini akan menghalangi kita dapat merasakan pertemuan dengan Allah. Adapun yang demikian itu dikarenakan disisi Allah kita akan mendapat perhitungan atas amal kita masing-masing bukan amal orang lain, maka tidak ada hubungannya sholat kita dengan amal perbuatan orang lain yang kita ingat-ingat itu dan pula kita tidak akan ditanyakan segala apa yang diperbuat orang lain itu berikut pertanggungjawabannya.

I’tikaf Terlebih Dahulu Sejenak

Sesudah bersuci kita lalu usahakan untuk meluangkan waktu sejenak sebelum kita berdiri sholat untuk beri’tikaf atau merenungkan dari setiap perkataan-pekataan kita yang akan kita ucapkan kepada Allah ketika menghadapnya. Dan pelajarilah sehingga kita mengerti benar makna dari apa yang akan kita ucapkan kepada Allah. Adapun yang demikian itu, supaya kita tidak mengikuti bisikan syaitan yang membisik ke dalam rongga dada kita yang menyuruh kita supaya melakukan kejahatan dan perbuatan keji dihadapan Allah ketika melakukan sholat, dan supaya kita mengatakan kepada Allah di dalam sholat kita itu apa yang kita tidak mengetahui, sebagaimana firman-Nya ;

Sesungguhnya syaitan menyuruh kamu supaya melakukan kejahatan dan perbuatan keji, dan supaya kamu mengatakan kepada Allah apa yang kamu tidak mengetahui. (Q.S. 2:169)

Dan agar pembicaraan kita kepada Allah didalam melakukan sholat tidak sebagaimana pembicaraannya orang yang sedang mabuk, sebagaimana yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-Nya yang firman-Nya :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu dekati sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (ketika sholat) dan janganlah (kamu hampiri masjid sedang kamu) dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, sehingga kamu mandi (terlebih dahulu), dan jika kamu dalam keadaan sakit atau kamu sedang dalam perjalanan atau kamu datang dari tempat buang air atau kamu menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air (untuk bersuci), maka bertayamumlah kamu dengan debu tanah yang bersih (atau suci), maka sapukanlah (debu itu) kemukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun. (Q.S. 4 : 43)

Maka itu marilah kita pelajari benar-benar setiap perkataan-perkataan yang kita hendak bicarakan kepada Allah didalam melakukan sholat, supaya sholat kita tidak sebagaimana orang yang mabuk yaitu berbicara semaunya sendiri tanpa memperdulikan salah atau benar serta maksud dan tujuan pembicaraannya kepada yang si pendengar.

Kemudian didalam i’tikaf ini yang perlu kita lakukan juga ialah melatih rasa hati dan ingatan dan seluruh panca indra kita supaya tetap tertuju kepada Allah, karena sholat itu khusus mengingat Allah sebagaimana firman-Nya :

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku maka sembahlah Aku, dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku (dan menyembah-Ku).(Q.S. 20:14)

Sesungguhnya hari Kiamat pasti datang, dan hampir Aku merahasiakan bahwa (pada hari itu) tiap-tiap diri akan dibalas dengan apa yang ia usahakan. (Q.S. 20:14)

Maka (sekali-kali) janganlah (ingatan)mu dapat dipalingkan dari (mengingat-Ku dalam menyembah-Ku ketika sholat) oleh orang yang tidak beriman kepada (petunjuk-Ku), sedang ia orang yang mengikuti hawa nafsunya (dalam melakukan sholatnya itu), maka jika (ingatanmu dapat dipalingkan olehnya, niscaya) kamu (termasuk orang-orang yang akan) binasa (tertimpa azab). (Q.S. 20:15)

Itulah yang Allah terangkan kepada kita dengan ayat-ayat-Nya yang berhubungan dengan ingatan kita ketika kita melakukan sholat, maka sekali-kali janganlah ingatan kita dapat dipalingkan dari mengingat Allah dalam menyembah-Nya ketika sholat oleh orang yang tidak beriman kepada petunjuk Allah, atau kita yang mengikuti hawa nafsunya sendiri dalam melakukan sholatnya itu sehingga dalam sholat kita hanya keinginan hawa nafsu kita sendiri saja yang kita ingat-ingat, maka jika ingatan kita dapat dipalingkan oleh hawa nafsu tersebut, niscaya kita termasuk orang-orang yang akan binasa tertimpa azab.

Kemudian kita juga i’tikafkan apakah kita hendak menghadap Allah dalam melakukan sholat membawa dosa-dosa yang kita kerjakan dari sebelum kita sholat atau membawa perintah-perintah Allah yang telah kita kerjakan sebelumnya. Jika kita merasa melakukan dosa sebelum kita menghadap Allah ketika melakukan sholat maka sebaiknya kita mohon ampun dahulu kepada Allah diampuni dosa-dosa kita sebelum menghadap Allah. Kemudian untuk perintah-perintah Allah yang kita kerjakan maka kita mohon ditetapkan balasannya disisi Allah.

Jangan Tergesa-gesa Berbicara

Sesudah kita siap untuk berdiri menghadap Allah dalam melakukan sholat, maka mulailah kita berbicara kepada Allah dan bacalah perkataan-perkataan kita itu dengan perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa ingin cepat-cepat selesai. Dan usahakanlah rasa hati dan ingatan kita tidak mendahului setiap bacaan sholat kita. Sehingga rasa hati dan ingatan kita akan selalu tertuntun oleh bacaan yang kita baca dalam melakukan sholat, sebagaimana firman Allah :

Janganlah kamu gerakkan lidahmu dengan (membaca Al Qu’an), karena kamu hendak bersegera (menguasai) padanya. (Q.S. 75:16)

Sesungguhnya atas Kami-lah mengumpulkannya dan membacakannya. (Q.S. 75:17)

Maka apabila Kami telah membacakannya, maka ikutilah bacaannya. (Q.S. 75:18)

Apabila Rasa Hati Dan Ingatan Berpaling

Kemudian apabila rasa hati dan ingatan kita berpaling didalam sholat terutama apabila tidak disengaja atau kecelakaan, maka segeralah kita kembali kepada Allah dan berdoalah :

Rabbana la tu-akhithna in nasiina aw akhta’na
“ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami karena kami lupa atau kesalahan. “ (Q.S. 2:286)

Lalu kita ulang kembali ditempat dimana ingatan kita berpaling dari bacaan sholat kita sendiri. Begitu kita ulang kembali setiap kita berpaling. Dengan terlatih demikian semakin jarang kita berpaling sampai benar-benar kita tidak pernah kles dari bacaan dengan rasa hati dan ingatan kita dalam melakukan sholat.

Berdialog Dengan Allah

Perlu diketahui bahwa ayat-ayat Allah yang kita baca dalam melakukan sholat ialah disaat itu Allah sedang berbicara kepada kita dengan melalui lisan kita. Maka itu kita sedang berdialog dengan Allah yang berbicara kepada kita dengan melalui ayat-ayat-Nya. Maka setiap ayat-ayat yang kita baca dalam melakukan sholat kita harus memberikan jawaban dari setiap perkataan Allah dengan perkataan kita sebagai jawaban atas firman Allah itu dengan perkataan yang mengandung kebaikan. Sebagai contoh dialognya di surah Al Fatihah berikut ini:

Suratul Al Fatihah(ti)
( Pembukaan )

Surah ke I diturunkan di Makkah sebanyak 7 ayat.

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(Q.S. 1:1)

Dialog :

“ Ya Allah, sungguh Engkaulah Tuhanku yang telah memberikan kemurahan dan kasih sayang-Mu kepadaku”

Segala Puji bagi Allah Tuhan Pemelihara semesta alam. (Q.S. 1:2)

Dialog :

“ Ya Allah, dengan seiring kemurahan dan kasih-sayang-Mu aku panjatkan segala puji bagi Engkau ya Allah Tuhan Pemelihara semesta alam”

Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Q.S. 1:3)
Dialog :

“ Yang telah memelihara kami dengan kemurahan dan kasih sayang Engkau”

Yang Menguasai hari pembalasan. (Q.S. 1:4)

Dialog :

“ Ya Allah, sungguh hanya Engkau-lah yang Menguasai hari pembalasan, maka berikankanlah balasan atas ketaatan kami dalam mengerjakan perintah-Mu dan ampunilah kesalahan kami kepada Engkau ya Allah”

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. 1:5)

Dialog :

“Ya Allah, sungguh hanya kepada Engkau-lah kami menyembah mempersembahkan ketaatan kami dalam mengerjakan perintah-Mu dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan dalam mengerjakan segala perintah-Mu”

Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus. (Q.S. 1:6)

Dialog :

“ Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan penyembahan kami ini yang lurus”

(Yaitu) ke jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan (ke jalan) orang-orang yang Engkau murkai atas mereka, dan bukan (pula ke jalan) orang-orang yang tersesat. (Q.S. 1:6)

Dialog :

“Yaitu ke jalan penyembahannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka atau para Nabi dan Rosul, bukan ke jalan penyembahannya orang-orang yang Engkau murkai atas mereka, dan bukan pula ke jalan penyembahannya orang-orang yang tersesat.”

Contoh dialog diatas hanyalah sebagai perumpamaan saja, adapun pada prakteknya kita dapat menyesuaikan dengan keadaan kita masing-masing setiap kita melakukan sholat. Misalnya di rokaat pertama pada kalimat “ Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan penyembahan kami ini yang lurus”, maka pada rokaat terakhir kita bisa berbicara kepada Allah dengan kalimat “ Ya Allah, tunjukkanlah kami ke jalan pengabdian kami ini yang lurus”. Adapun yang demikian itu dikarenakan kita sesudah melakukan sholat ini kita akan mengerjakan perintah-perintah Allah kembali sebagai wujud pengabdian kita kepada Allah yang akan kita bawa kembali ketika menghadap Allah pada waktu sholat selanjutnya. Dan begitu pula dengan ayat-ayat yang lainnya.

Dengan demikian antara sholat dan pengabdian kita tidak terpisahkan setiap harinya, sehingga dalam pengabdian kita kita pun bisa selalu mengingat Allah yang pada akhirnya ketika kita mau menghadap Allah ketika sholat kita telah terbiasa mengingat-Nya dalam pengabdian sehingga kita terhindar dari perbuatan keji dan mungkar kepada Allah sebagaimana firman-Nya :

Bacalah apa yang (Allah) wahyukan kepadamu dari Kitab (Al Qur’an), dan dirikanlah sholat, sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (dalam melakukan sholat) lebih besar (keutamaannya) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (dalam melakukan sholat).(Q.S. 29:45).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Q.S. 3:190).

(Yaitu bagi) orang-orang yang mengingat Allah, (sambil) berdiri, (sambil) duduk, (sambil) berbaring, dan (yang demikian itu) mereka sedang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (lalu mereka berkata): “ Yaa Tuhan kami, tidaklah sia-sia (semua) yang telah Engkau ciptakan ini, maka peliharalah kami dari (tersentuh) siksa neraka.” (Q.S. 3:191).

CITES APPENDICES

The CITES Appendices

Appendices I, II and III to the Convention are lists of species afforded different levels or types of protection from over-exploitation (see How CITES works).

Appendix I lists species that are the most endangered among CITES-listed animals and plants (see Article II, paragraph 1 of the Convention). They are threatened with extinction and CITES prohibits international trade in specimens of these species except when the purpose of the import is not commercial (see Article III), for instance for scientific research. In these exceptional cases, trade may take place provided it is authorized by the granting of both an import permit and an export permit (or re-export certificate). Article VIIof the Convention provides for a number of exemptions to this general prohibition.

Appendix II lists species that are not necessarily now threatened with extinction but that may become so unless trade is closely controlled. It also includes so-called "look-alike species", i.e. species of which the specimens in trade look like those of species listed for conservation reasons (see Article II, paragraph 2 of the Convention). International trade in specimens of Appendix-II species may be authorized by the granting of an export permit or re-export certificate. No import permit is necessary for these species under CITES (although a permit is needed in some countries that have taken stricter measures than CITES requires). Permits or certificates should only be granted if the relevant authorities are satisfied that certain conditions are met, above all that trade will not be detrimental to the survival of the species in the wild. (See Article IV of the Convention)

Appendix III is a list of species included at the request of a Party that already regulates trade in the species and that needs the cooperation of other countries to prevent unsustainable or illegal exploitation (see Article II, paragraph 3, of the Convention). International trade in specimens of species listed in this Appendix is allowed only on presentation of the appropriate permits or certificates. (See Article V of the Convention)

Species may be added to or removed from Appendix I and II, or moved between them, only by the Conference of the Parties, either at its regular meetings or by postal procedures (see Article XV of the Convention). But species may be added to or removed from Appendix III at any time and by any Party unilaterally (although the Conference of the Parties has recommended that changes be timed to coincide with amendments to Appendices I and II).

The names of species in the Appendices may be annotated to qualify the listing. For example, separate populations of a species may have different conservation needs and be included in different Appendices (e.g. the wolf populations included in Appendix I are only those of Bhutan, India, Nepal and Pakistan, whereas all others are included in Appendix II). Such specifications can appear next to the species name or in the Interpretation section. For this reason, the Appendices should always be consulted alongside the interpretation with which they are presented.

Parties may enter reservations with respect to any species listed in the Appendices in accordance with the provisions ofArticles XV, XVI or XXIII of the Convention.


Standar Nasional Indonesia
SNI 01-5009.1-1999

G A H A R U

1. Ruang lingkup

Standar ini meliputi definisi, lambang dan singkatan, istilah, spesifikasi, klasifikasi, cara pemungutan, syarat mutu, pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus uji, syarat penandaan, sebagai pedoman pengujian gaharu yang diproduksi di Indonesia.

2. Definisi

Gaharu adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aguilaria sp. (Nama daerah : Karas, Alim, Garu dan lain-lain).

3. Lambang dan Singkatan

3.1.  U   = Mutu utama             3.12. t    = Tebal     3.2.  I   = Mutu pertama           3.13. TGA  = Tanggung A 3.3.  II  = Mutu kedua             3.14. TAB  = Tanggung AB 3.4.  III = Mutu ketiga            3.15. TGC  = Tanggung C 3.5.  IV  = Mutu keempat           3.16. TK 1 = Tanggung kemedangan 1 3.6.  V   = Mutu kelima            3.17. SB 1 = Sabah 1             3.7.  VI  = Mutu Keenam            3.18. M 1  = Kemedangan 1 3.8.  VII = Mutu ketujuh           3.19. M 2  = Kemedangan 2 3.9.  -   = Tidak dipersyaratkan   3.20. M 3  = Kemedangan 3 3.10. p   = Panjang                3.21. kg   = kilogram 3.11. l   = Lebar                  3.22. gr   = gram 

4. Istilah

4.1. Abu gaharu adalah serbuk kayu gaharu yang dihasilkan dari proses penggilingan atau penghancuran kayu gaharu sisa pembersihan atau pengerokan.

4.2. Damar gaharu adalah sejenis getah padat dan lunak, yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, dengan aroma yang kuat, dan ditandai oleh warnanya yang hitam kecoklatan.

4.3. Gubal gaharu adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang agak kuat, ditandai oleh warnanya yang hitam atau kehitam-hitaman berseling coklat.

4.4. Kemedangan adalah kayu yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, memiliki kandungan damar wangi dengan aroma yang lemah, ditandai oleh warnanya yang putih keabu-abuan sampai kecoklat-coklatan, berserat kasar, dan kayunya yang lunak.

5. Spesifikasi

Gaharu dikelompokkan menjadi 3 (tiga) sortimen, yaitu gubal gaharu, kemedangan dan abu gaharu.

6. Klasifikasi

6.1. Gubal gaharu dibagi dalam tanda mutu, yaitu :

  1. Mutu utama, dengan tanda mutu U, setara mutu super.
  2. Mutu pertama, dengan tanda mutu I, setara mutu AB.
  3. Mutu kedua, dengan tanda mutu II, setara mutu sabah super.

6.2. Kemedangan dibagi dalam 7 (tujuh) kelas mutu, yaitu :

  1. Mutu pertama, dengan tanda mutu I, setara mutu TGA atau TK I.
  2. Mutu kedua, dengan tanda mutu II, setara mutu SB I.
  3. Mutu ketiga, dengan tanda mutu III, setara mutu TAB.
  4. Mutu keempat, dengan tanda mutu IV, setara mutu TGC.
  5. Mutu kelima, dengan tanda mutu V, setara mutu M 1.
  6. Mutu keenam, dengan tanda mutu VI, setara mutu M 2.
  7. Mutu ketujuh, dengan tanda mutu VII, setara mutu M 3.

6.3. Abu gaharu dibagi dalam 3 (tiga) kelas mutu, yaitu :

  1. Mutu Utama, dengan tanda mutu U.
  2. Mutu pertama, dengan tanda mutu I.
  3. Mutu kedua, dengan tanda mutu II.

7. Cara Pemungutan

7.1. Gubal gaharu dan kemedangan diperoleh dengan cara menebang pohon penghasil gaharu yang telah mati, sebagai akibat terjadinya akumulasi damar wangi yang disebabkan oleh infeksi pada pohon tersebut.

7.2. Pohon yang telah ditebang lalu dibersihkan dan dipotong-potong atau dibelah-belah, kemudian dipilih bagian-bagian kayunya yang telah mengandung akumulasi damar wangi, dan selanjutnya disebut sebagai kayu gaharu.

7.3. Potongan-potongan kayu gaharu tersebut dipilah-pilah sesuai dengan kandungan damarnya, warnanya dan bentuknya.

7.4. Agar warna dari potongan-potongan kayu gaharu lebih tampak, maka potongan-potongan kayu gaharu tersebut dibersihkan dengan cara dikerok.

7.5. Serpihan-serpihan kayu gaharu sisa pemotongan dan pembersihan atau pengerokan, dikumpulkan kembali untuk dijadikan bahan pembuat abu gaharu.

8. Syarat Mutu

8.1. Persyaratan umum

Baik gubal gaharu maupun kemedangan tidak diperkenankan memiliki cacat-cacat lapuk dan busuk.

8.2. Persyaratan khusus

Persyaratan khusus mutu gaharu, dapat dilihat berturut-turut pada Tabel 1, 2 dan 3.

Tabel 1. Persyaratan Mutu Gubal Gaharu

No.

Karakteristik

M u t u

U

I

II

1.

Bentuk

-

-

-

2.

Ukuran :
p
l
t


4 - 15 cm
2 - 3 cm
> 0,5 cm


4 - 15 cm
2 - 3 cm
> 0,5 cm


>15 cm
-
-

3.

WarnaHitam merataHitam kecoklatanHitam kecoklatan

4.

Kandungan damar wangiTinggiCukupSedang

5.

SeratPadatPadatPadat

6.

BobotBeratAgak beratSedang

7.

Aroma (dibakar)KuatKuatAgak kuat

Tabel 2. Persyaratan Mutu Kemedangan

No.

Karakteristik

M u t u

I

II

III

IV

V

VI

VII

1.

WarnaCoklat kehitamanCoklat bergaris hitamCoklat bergaris putih tipisKecoklatan bergaris putih tipisKecoklatan bergaris putih lebarPutih keabu-abuan garis hitam tipisPutih keabu-abuan

2.

Kandungan damar wangiTinggiCukupSedangSedangSedangKurangKurang

3.

SeratAgak padatAgak padatAgak padatKurang padatKurang padatJarangJarang

4.

BobotAgak beratAgak beratAgak beratAgak beratRinganRinganRingan

5.

Aroma (dibakar)Agak kuatAgak kuatAgak kuatAgak kuatKurang kuatKurang kuatKurang kuat

Tabel 3. Persyaratan Mutu Abu Gaharu

No.

Karakteristik

M u t u

U

I

II

1.

WarnaHitamCoklat kehitamanPutih kecoklatan/kekuningan

2.

Kandungan damar wangiTinggiSedangKurang

3.

Aroma (dibakar)KuatSedangKurang

9. Pengambilan Contoh

Pengambilan contoh kayu atau abu gaharu untuk keperluan pemeriksaan dilakukan secara acak, dengan jumlah contoh uji seperti tercantum pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah Gaharu Contoh Uji

No.

Jumlah Populasi

Jumlah Contoh Uji

1.
2.
3.

<100 kg
100 - 1.000 kg
> 1.000 kg

15 gr
100 gr
200 gr

10. Cara Uji

10.1. Prinsip : Pengujian dilakukan secara kasat mata (visual) dengan mengutamakan kesan warna dan kesan bau (aroma) apabila dibakar.

10.2. Peralatan yang digunakan meliputi meteran, pisau, bara api, kaca pembesar (loupe) ukuran pembesaran > 10 (sepuluh) kali, dan timbangan.

10.3. Syarat pengujian

10.3.1. Kayu gaharu yang akan diuji harus dikelompokkan menurut sortimen yang sama. Khusus untuk abu gaharu dikelompokkan menurut warna yang sama.

10.3.2. Pengujian dilaksanakan ditempat yang terang (dengan pencahayaan yang cukup), sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu atau abu gaharu.

10.4. Pelaksanaan pengujian

10.4.1. Penetapan jenis kayu

Penetapan jenis kayu gaharu dapat dilaksanakan dengan memeriksa ciri umum kayu gaharu.

10.4.2. Penetapan ukuran

Penetapan ukuran panjang, lebar dan tebal kayu gaharu hanya berlaku untuk jenis gubal gaharu.

10.4.3. Penetapan berat

Penetapan berat dilakukan dengan cara penimbangan, menggunakan satuan kilogram (kg).

10.4.4. Penetapan mutu

Penetapan mutu kayu gaharu adalah dengan penilaian terhadap ukuran, warna, bentuk, keadaan serat, bobot kayu, dan aroma dari kayu gaharu yang diuji. Sedangkan untuk abu gaharu dengan cara menilai warna dan aroma.

  1. Penilaian terhadap ukuran kayu gaharu, adalah dengan cara mengukur panjang, lebar dan tebal, sesuai dengan syarat mutu pada Tabel 2.
  2. Penilaian terhadap warna kayu dan abu gaharu adalah dengan menilai ketuaan warna, lebih tua warna kayu, menandakan kandungan damar semakin tinggi.
  3. Penilaian terhadap kandungan damar wangi dan aromanya adalah dengan cara memotong sebagian kecil dari kayu gaharu atau mengambil sejumput abu gaharu, kemudian membakarnya. Kandungan damar wangi yang tinggi dapat dilihat dari hasil pembakaran, yaitu kayu atau abu gaharu tersebut meleleh dan mengeluarkan aroma yang wangi dan kuat.
  4. Penilaian terhadap serat kayu gaharu, adalah menilai kerapatan dan kepadatan serat kayu. Serat kayu yang rapat, padat, halus dan licin, bermutu lebih tinggi dari pada serat yang jarang dan kasar.

10.4.5. Penetapan mutu akhir

Penetapan mutu akhir didasarkan pada mutu terendah menurut salah satu persyaratan mutu berdasarkan karakteristik kayu gaharu.

11. Syarat Lulus Uji

Kayu gaharu atau abu gaharu yang telah diuji atau diperiksa, dinyatakan lulus uji apabila memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan.

12. Syarat Penandaan

Pada kemasan kayu atau abu gaharu yang telah selesai dilakukan pengujian harus diterakan:
- Nomor kemasan
- Berat kemasan
- Sortimen
- Mutu
- Nomor SNI
- Tanda Pengenal Perusahaan (TPP)


[ Menu Utama | Standardisasi ]

[ E-Mail Pejabat | Buku Tamu | Situs Terkait ]